rafale


                                                

Sejarah mencatat bahwa tak semua upaya melahirkan alutsista mandiri berhasil, minimal secara teknis (belum tentu secara finansial). Political will dan modal finansial jadi penentu utama. Rafale jadi bukti nyata keberhasilan prancis melahirkan fighter generasi baru secara mandiri.

Hal penting yang perlu di catat selain policital will dan modal duit adalah perencanaan jauh ke depan. Jangan kaget kalau konsep rafale sudah di petakan sejak akhir tahun 1970an. Meski sempat gabung dengan jerman barat dan inggris (ditambah italia dan spanyol) dalam proyek jet tempur eropa, akhirnya prancis memutuskan pisah jalan. Proyek european combat aircraft project itu kelak bersalin nama menjadi european fighter aircraft atau EFA.

Diantara lainnya prancis memang paling beda sendiri karena ngotot menerapkan bobot limitasi. Alasan prancis didasari keinginan penempurnya harus bisa beroperasi dari kapal induknya yang bersistem CATOBAR (catapult assisted takeoff but arrested recovery) seperti pada kapal induk amerika. Dan dari awal memang bobot kosong rancangan dasar EFA sudah lebih berat 2 ton dari yang di maui prancis.

Cabut dari EFA tahun 1985, pabrikan Dassault terus menggodok desain sendiri yang kelak dinamakan Rafale di baca ra-fal, yang artinya sejenis angin kencang yang berhembus tiba-tiba dan biasanya mengawali hujan badai. Purwarupa pertama berupa demonstrator rafale A terbang 4 juli 1986 dengan masih ditenagai mesin General Electric F404-GE-400 buatan amerika. Purwarupa rafale C01 yang juga berkursi tunggal terbang perdana tanggal 19 mei 1991 dan sudah di tenagai mesin Snecma M88-2 buatan prancis. Diikuti rafale M01 (varian angkatan laut kursi tunggal) pada 12 desember 1991 dan rafale B01 (satusatunya purwarupa berkusri ganda) pada tanggal 30 april 1993.

Dengan semua kecanggihanya, tidak serta merta rafale sukses di pasar export. Kemandirian prancis harus di bayar ongkos penelitian dan pengembangan yang sangat tinggi sehingga berujung pada harga rafale yang mahal. Di sebut sebut harga flyaway nya berkisar 90-110 juta dolar amerika tergantung konfigurasi.

Setelah bertahun tahun gagal menggaet pembeli, india sempat menjadi harapan terbesar dassault lewat pengadaan MMRCA untuk 126 unit jet tempur. Namun negosiasi yang alot membuat program itu kandas.

Dessault bisa bernapas lega setelah pada februari 2015 mesir membeli 24 rafale  (8 single seater dan 16 tandem seater) dan mulai digunakan pada tahun 2018. Disusul Qatar pada mei 2015 dengan  memesan 24 jet tempur Dassault Rafale pada 2015 dan memesan 12 lagi pada 2018. Pada Februari 2020, Qatar telah menerima 25 unit pesawat. Kroasia membeli 12 unit pesawat tempur Dassault Rafale untuk memperkuat angkatan udaranya. Dari jumlah tersebut, delapan unit akan diterima pada 2024 sedangkan empat unit sisanya pada 2025. Uni Emirat Arab menandatangani kesepakatan pembelian 80 jet tempur Rafale pada Desember 2020. Adapun nilai pembelian sekitar Rp220 triliun. Pesawat tersebut baru akan dikirim pada 2027 mendatang. Yunani juga salah satu negara yang memesan 24 jet tempur Rafale. Selain memesan pesawat tempur, mereka juga membeli empat kapal fregat dari Prancis. Dan Indonesia telah menyetujui pembelian 42 jet tempur generasi 4.5 Rafale asal Perancis melalui penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pertahanan. Progres awal pengadaan jet tempur pabrikan Dassault Avation itu dengan mengakuisisi enam unit pada kontrak perdana. Sementara, 36 unit lainnya diklaim akan segera menyusul dalam waktu dekat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERBEDAAN PESAWAT TEMPUR GENERASI 1 DENGAN GENERASI KE 5

rusia negara terbesar