Kopaska 2
Dalam kurun satu setengah bulan pertama fisik mereka digembleng habis. Terutama untuk otot kaki. Maklum, ketika menyelam, anggota tubuh ini pegang peran utama. Tahap pertama ini ditutup dengan hell wik (minggu neraka). Disini ketahanan fisik diuji dengan beragam kegiatan. Macam angkat perahu karet, renang lawan arus sampai renang selat. Gawatnya, semua dilakukan tanpa kenal waktu.
Fase selanjutnya berupa pembinaan kelas selama dua setengah bulan, plus sebulan praktik. Teori yang didapat antara lain, pengintaian pantai, demolisi hingga sabotase. Jangan dikira para siswa sudah berada di Surga. Pasalnya setelah makan siang, mereka tetap diwajibkan lari dan renang. Mulai dari renang tanpa alat di kolam dan laut hingga renang tempur. Bila dihitung, rata-rata setiap hari mereka renang sejauh lima mil atau sekitar delapan kilometer. Berat memang tahapan yang mesti dilalui. Jadi jangan heran bila tak semua siswa bisa lolos menyandang brevet pasukan katak.
Resmi menyandang brevet, para pasukan katak junior akan dibagi dua. Masıng-masıng ditempatkan di Satpaska Armada Barat atau Timur. Itu pun tak langsung mengemban tugas operasi penuh. Mereka mesti melewati masa orientasi pada detasemen latih dan dilanjutkan dengan penugasan ringan selama setahun.
Penyusupan ke daerah lawan melalui kapal selam merupakan salah satu spesialisasi pasukan katak. Sepintas terasa mudah. Tinggal masukkan pasukan ke tabung torpedo dan lepaskan. Namun tak demikian di lapangan Ada beberapa parameter yang harus dipenuhi. Merujuk pada tipe kapal selam TNI Angkatan laut, operasi umumnya dilakukan di kedalaman 12 meter. Agar dekat ke permukaan, peluncuran dilakukan lewat dua tabung paling atas. Setiap tabung yang berukuran sekitar tujuh meter itu paling banter bisa dimuati empat Kopaska.
Sebelum pelepasan, para penyelam terlebih dahulu melalui proses dekompresi. Proses ini berfungsi menyamakan tekanan tabung dengan tekanan luar kapal selam. Ketika air laut mulai masuk ke tabung, setiap anggota mesti menundukkan kepala dan memegang masker erat erat. Selama proses, tabung torpedo sengaja hanya diisi air tiga perempat bagian saja. Ini dilakukan sebagai langkah antisipasi bila peralatan selam mengalami masalah. Biasanya proses pelepasan memakan waktu sekitar 10 menit.
Rampung pelepasan, tim pasukan katak menyelam ke target dengan bantuan kompas bawah air serta sejumlah data intelijen lain. Urusan jarak tempuh bisa diukur dari kepakan fin. Oleh karenanya tiap orang wajib hafal jumlah kepakan untuk setiap 100 meter titik pengecekan arah. Selain itu besaran ombak serta arus juga patut diperhitungkan. Meleset sedikit, akibatnya penyelam bisa- bisa malah terseret arus.
Fungsi asasi pasukan katak selanjutnya adalah membuka lorong pendaratan bagi operasi amfibi. Lagi-lagi, jangan anggap enteng pekerjaan ini. Biasanya operasi diawali dengan pembersihan ranjau dan obstakel. Bila kedalaman laut masih mumpuni, kerja Kopaska akan dibantu sepasang kapal penyapu ranjau. Ketika posisi ranjau ditemukan maka kapal akan mengirimkan dua pasukan katak sebagai tim penjinak. Cerita bakal berubah bila telah mendekati wilayah pantai. Kedalamannya yang terbatas membuat kapal ranjau tak lagi bisa beroperasi. Alhasil pasukan katak mesti bekerja dengan cara konvensional.
Masih berhubungan dengan lorong pendaratan, pasukan katak Juga bertanggung jawab buat menyediakan info kondisi pantai yang bakal di darati. Data yang dikumpulkan meliputi tipe ombak hingga kecepatan angin. Di sinilah keandalan tim Surob (surf observation) Kopaska untuk menghitung frekuensi dan tipe gelombang serta kecepatan angin diuji. Data-data ini berguna menentukan waktu paling tepat untuk mendarat serta jenis wahana amfibi yang paling pas dipakai.
Secara teknis lorong pendaratan dibuat dari kedalaman 10 meter hingga backshore, wilayah pantai pertama yang ditumbuhi pepohonan tinggi. Sementara pola yang diterapkan punya panjang 1.500 yard dan lebar 800-900 yard. Terakhir, kondisi pantai paling aman bila ombaknya berjenis spilling (kalem).
Era 90-an, bersama dengan latihan SILEX, Kopaska mendapat tambahan ilmu baru dari pasukan khusus angkatan laut amerika ( Nevy SiL). Taktik penyusupan malam hari lewat udara berlabel Combat Raiding Rubber Craft (CRRC), begitulah nama ilmu yang berhasil diserap.
Tujuan dari taktik ini adalah mendirikan fasilitas komunikasi dan navigasi di garis belakang pertahanan lawan. Untuk itu satu tim pasukan katak (sekitar enam orang) diterjunkan statik bersama sebuah perahu karet. Operasi biasanya dilakukan pada ketinggian 1.200 -1.500 kaki (sekitar 300-500 meter) dan jarak 25 mil atau 40 kilometer dari pantai sasaran.
Sepintas terasa mudah buat melakukannya. Tinggal lempar perahu karet berbobot 300 kilogram yang berisi perangkat komunikasi/navigasi, alat selam, BBM dan persenjataan keluar pesawat. lantas terjunkan saja pasukannya. Rampung segala masalah.
Cuma itu semua merupakan pandangan awam. Supaya operasi berjalan sukses, sejumlah jurus spesial wajib dilakukan. Taruhlah untuk mengemas perahu supaya lancar diterjunkan ke titik pendaratan di laut. Agar mengembang sempurna, posisi dudukan parasut mesti pas benar. Demikian pula dengan ikatan tali temali. Bagian ini diracik sedemikian rupa sehingga bisa dilepas cukup dengan sekali potong saja. Selesai? Tidak juga. Saat proses pemuatan dimulai, posisi haluan perahu dibuat menghadap ramp-dor serta sejajar dengan dinding kabin pesawat. Itu syarat yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Selanjutnya, perahu diikatkan pada papan beroda untuk memuluskan proses pelontaran melalui pintu belakang pesawat. Jujur saja, trik memakai papan beroda sebenarnya asli terobosan Kopaska. Bukan taktik yang dicomot dari Nevi SiL. Di negeri asalnya, taktik infiltrasi udara macam ini biasanya dilakukan memakai pesawat angkut sekelas C-130 Hercules yang telah dilengkapi piranti Delivery Container System (DCS). Sementara disini, untuk operasi serupa masih mengandalkan kasa 212 dengan dek kabin konvensional.
Lepas dari perut pesawat ada lagi kendala yang tak bisa dianggap enteng. Pasalnya untuk mencari lokasi pasti jatuhnya perahu karet bukanlah hal gampang. Begitu mendarat di permukaan laut bisa saja perahu hanyut atau tertutup gelombang. Kalau sudah begini, mau tak mau harus insting yang bermain. Sang penerjun mesti awas buat mengidentifikasi lokasi perahu. Masih berkisar tentang taktik CRRC, urusan terjun bagi pasukannya sendiri juga tak kalah merepotkan. Teorinya penerjun pada ketinggian antara 10 hingga 5 meter. Tergantung dari kondisi laut. Begitu payung lepas, mereka wajib merapatkan dagunya ke dada dan kedua tangan sejajar badan. Ini dilakukan agar tubuh menembus permukaan laut dengan mulus. Aturan tadi tak dipatuhi, imbalannya wajah bakal tertampar permukaan. Efek lanjutan nya, sang penerjun bisa bisa malah hilang kesadaran.
Komentar
Posting Komentar