MEMBANTU MUJAHIDIN
Angkatan bersenjata indonesia pada tahun 70 an banyak memiliki persenjataan dan logistik buatan uni soviet sebagai inventaris masa trikora dan dwikora. Persenjataan ini rupanya cocok untuk digunakan dalam melanjutkan perang gerilya pejuang mujahidin melawan kekuatan pasukan uni soviet di afghanistan. Dengan alasan inilah pemerintah indonesia bersedia membantu pejuang mujahidin.
Hari itu 18 ferbruari 1981, Pimpinan intelijen Indonesia Lentan jenderal LB Murdani di dampingi staf intel hankam Republik Indonesia kolonel Teddy Rusdy melakukan pertemuan khusus dengan kepala intelijen negara pakistan. Ini pertemuan rahasia untuk membahas permintaan pejuang mujahidin dan intelijen pakistan dalam membantu logistik, obat-obatan dan persenjataan.
Operasi khusus untuk memasok senjata bagi pejuang mujahidin di afghanistan di mulai dengan persetujuan presiden Suharto. mulailah dikumpulkan senjata buatan uni soviet dari berbagai jenis yang tersimpan di gudang-gudang seluruh indonesia. Terkumpullah persenjataan untuk dua batalion infanteri.
Selama beberapa bulan senjata dan logistik tersebut di angkut ke jakarta. lalu di kumpulkan di gudang khusus staf intel hankam, pusat intelijen strategis dan pangkalan udara halim perdanakusuma. Tidak hanya sampai di situ senjata-senjata tersebut harus di hapus nomor seri nya untuk mengaburkan asal sumbernya. perkerjaan ini ternyata membutuhkan waktu yang lama.
Setelah melakukan berbagai kegiatan dan persiapan bantuan yang sangat teliti, ketat, dan tertutup akhirnya semua selesai pada juli 1981. selanjutnya di persiapkan cara dan sarana untuk pengangkutan dari jakarta ke afghanistan. semua senjata dimasukkan ke dalam peti dan di beri label palang merah. peti-peti itu di campurkan dengan peti obat-obatan dan selimut. untuk pengangkutanya di putuskan menggunakan kargo melalui udara.
Disiapkan Boeing 707 Pelita air service dengan tiga pilot. kapten arifin, kapten abdullah, dan kapten Danur. Pelita air dan garuda dengan pilot-pilot pilihan memang sering digunakan untuk menunjang operasi intelijen. Boeing di pilih karena interiornya dapat diubah menjadi kabin VVIP atau kargo.
Rencana penerbangan rahasia pun disusun. di pilih rute penerbangan jakarta Diego Garcia, kepulauan milik inggris yang dikuasai amerika dengan jarak 3000 mil laut. dilanjutkan kemudian dari diego garcia ke rawalpindi di pakistan. Penerbangan itu di wilayah udara internasional di samarkan sebagai penerbangan bantuan kemanusiaan.
Menjelang tengah malam pesawat mendarat di pangkalan angkatan udara pakistan di rawalpindi. Truk serta personil bongkar muat dan angkut dari tim penerima telah di siapkan intelijen pakistan. semua bantuan dikeluarkan.
menjelang pagi, bongkar muat selesai dan konvoi bantuan kemanusiaan untuk pengungsi dan korban perang afghanistan dari indonesia segera bergerak. iring iringan konvoi bergerak ke arah barat melalui Attock, Nowshera, Peshawar, berlanjut melintasi Khyber pass. inilah lembah yang terkenal untuk memasuki afghanistan dari pakistan. sesampainya di tujuan bantuan di serahkan kepada pimpinan mujahidin di Nangarhar.
Komentar
Posting Komentar